Total Tayangan Halaman

Kamis, 23 Februari 2012

“Memaafkan” merupakan pembalasan dendam yang termanis !

0 komentar
“Memaafkan” merupakan pembalasan dendam yang termanis !
Diambil dari hasil Diskusi di Group TAO Indonesia,
Dibahas oleh Melinda Lika, Albert Tjhie dan Budi Santoso



Persoalannya, kadang ada yang merasa sudah “memaafkan”, tetapi sebenarnya belum memaafkan yang sesungguhnya !
Memang benar…kata memaafkan sangat mudah untuk diucapkan, tetapi melaksanakannya sangat sulit. Apalagi masih ada rasa dongkol ha…ha…ha…   Dendam kesumbet, eh…. salah… kesumat, masih wajar… manusia…    he…he…he…   Yang penting, mau belajar untuk selalu bisa membuka hati, dengan tulus memaafkan orang lain !
Hm…kata “memaafkan”…. sederhana sekali yah… tapi memang sangat2 sulit untuk dipraktekkan.  Dibutuhkan jiwa yang besar untuk bisa “benar-benar” memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain terhadap diri kita.  Mungkin… karena penggunaan kata “Pembalasan Dendam” terlalu vulgar buat didengar / dibaca / dipahami.  Jadi bisa menimbulkan kesan yang seram !!!
Sebenarnya, makna yangg bisa ditangkap dari kata-kata tersebut di atas adalah, apabila ada seseorang yang pernah berbuat salah pada diri kita, akan tetapi kita tidak membalasnya dengan dendam / kebencian, namun justru dengan “memaafkan”nya.   Biasanya efek yang timbul bagi si pembuat kesalahan adalah merasa “sungkan” dan jadi “ngak enak hati”, kadang justru perasaan bersalah tersebut menjadi sebuah “senjata makan tuan” bagi si pelaku.   Apalagi jika si korban justru sebaliknya, membalasnya dengan senyuman dan tetap berbuat baik terhadap si pelaku yang sudah berbuat kesalahan. Ini menjadi “pukulan” secara halus bagi si pelaku itu sendiri, tanpa harus dilakukan dengan cara membalas dendam / dengan kebencian.
Adapun mengenai kondisi “melupakan”, rasanya sih memang sulit untuk dilakukan.   Karena di dalam memori otak yang bersangkutan, pasti akan tetap tersimpan.  Tapi… karena sudah memaafkan dengan ikhlas, semua memori negatif tersebut tidak muncul ke permukaan pikiran dan menjadi sebuah emosi negatif yang mengganggu.  jadi… betapapun sulitnya, memang jauh lebih indah apabila kita mencoba untuk belajar saling memaafkan dan mengampuni dari pada membalas dengan dendam dan kebencian.
Seperti kata pepatah “kalah jadi abu… menang jadi arang !!!”,  maka kedua belah pihak akan dirugikan bila saling menyimpan dendam dan kebencian. Namun dibalik kata “memaafkan”, kita juga harus tetap waspada dengan menggunakan WU, jangan sampai kita menjadi pihak yang “dimanfaatkan” karena sifat kita yang terlalu “pemaaf”, sehingga terkesan lemah dan tidak tegas !!! www.taoindonesia.info

Setiap Kali Buka Mulut Berucap, Selalu Menyakiti Orang Lain

0 komentar
Oleh: Flyming Lika
  • Bahasa Tionghoanya adalah "Ie Juk Go Tek Cui Re Cia". Ini sering kita lakukan, tetapi hampir tidak pernah kita sadari.
    Contoh: Seorang tamu datang ke toko seorang Tao Yu. Tanpa basa basi langsung nyeletuk: "Oh, pai (sembahyang) Thay Sang Lauw Cin, ya ? Yang gurunya ada di kota X ya ? Jangan ikuti deh, nanti bisa susah bla ...... bla...... bla...... Lebih baik ikut yang di depan itu. Hanya satu yang bisa menolong manusia, di dunia dijamin, di akhirat (maksudnya sesudah mati) pun di jamin, bla.... bla..... bla....."
    Tao Yu inipun mencoba masih bertutur sopan kepadanya, "le Juk Go, Pu Yauw Tek Cui Ren Cia" (Kalau mulai berbicara, jangan menyinggung orang lain). Kenal saja tidak!
    Si Tamu tersebut masih juga tidak menyadari bahwa dia busuk mulut. Akhirnya dengan terpaksa harus diberi pelajaran. Tao Yu inipun mulai melontarkan beberapa pertanyaan yang tidak dapat di jawab oleh sang Tamu.
    Sang Tamu-pun jadi malu karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan rasa jengkel dan bingung, mau pulangpun jadi menuju ke belakang padahal pintu keluarnya begitu besar, setelah di beritahu arah pintupun kepalanya masih terbentur tiang. Kasihan deh!

    Apakah kita yang Siu Tao juga masih seperti ini ?

    Contoh sederhana lain, Seorang Tao Yu A baru beli hand-phone merk XYZ, Tao Yu B datang-datang mengatakan bahwa hand-phone merk XYZ ini murahan, jelek, dll. Tentu saja hal ini menjadikan Tao Yu A tersinggung, sedih dan kecewa. Padahal Tao Yu A termasuk Tao Yu yang mulai mencoba menabung, dengan uang sendiri membeli HP yang sudah diidam-idamkan sejak lama.
    Inilah contoh "busuk mulut yang usil". Ternyata Busuk Mulut masih banyak berkeliaran di Bumi ini. Apakah kita yang Siu Tao ini masih "Busuk Mulut", yang setiap kali mulai berbicara, kanan kiri tersinggung? Padahal kalau kita sudah tidak "Busuk Mulut" maka Tao kita akan naik satu tingkat lagi. Kita akan menuju ke kemuliaan hati / kebeningan hati.
    Pada dasamya, manusia itu tidak enak kalau tersinggung. Bagaimana agar kita tidak "busuk mulut" ?
    Pada saat Cing Co, flash back-lah semua yang menjadikan kita kurang, niscaya untuk selanjutnya dalam berbicara, kita akan dapat menempatkan diri kita dan juga dapat memperhatikan perasaan lawan bicara kita.
    Perlu juga perenungan kalimat ini:
    Jujur, belum tentu benar/tepat.
    Tidak jujur, belum tentu tidak tepat.
    Yang bijak-lah yang paling tepat.
    Bagaimana menjadi BIJAK, itulah persoalan kita semua!
    Padahal kalau kita mau merunut kembali, Siu Tao adalah merevisi diri menuju Tao. Untuk menuju Tao, dimulai dengan menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia. Mulailah dengan yang paling sederhana......"TIDAK BUSUK MULUT".


Syek Tao Hao

0 komentar
(tempo C 4/4 Rhumba)
Syek Tao Hao ya Syek Tao Hao (Belajarlah Tao yang Mulia)
Syek Tao Hao ya Syek Tao Hao, (Belajarlah Tao yang Mulia)
Sen Sin Cien Gang Wu Fan Naw (Lepas dari sengsara)
Sen Sin Cien Gang Wu Fan Naw, (Lepas dari sengsara)

Dai Sang Tao Fak Caw Dien Sia (Sinar terang sinar bahagia)
Dai Sang Tao Fak Caw Dien Sia, (Sinar terang sinar bahagia)
Diaw Ju Gu Hay Yaw Jen Caw (Lepas dari laut neraka)
Diaw Ju Gu Hay Yaw Jen Caw. (Lepas dari laut neraka).