Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Dewa Dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewa Dewi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 April 2012

Guang Ze Zun Wang

0 komentar
copas dari ss.Eko Kartio

SEJARAH : Guang Ze Zun Wang ( Kong Tek Cun Ong - Hokkian )
disebut juga
Bao An Zun Wang ( Po An Cun Ong - Hokkian ).

Secara umum Guang Zi Zun Wang disebut sebagai Guo Sheng Wang ( Kwee Seng Ong - Hokkian ), karena berasal dari keluarga Guo ( Kwee ). Guo Sheng Wang berasal dari kota Quanzhou, kabupaten Nanan, propinsi Fujian. Ia hidup pada jaman Dinasti Song dan nama aslinya Guo Hong Fu ( Kwee Ang Hok-Hokkian).

Menurut cerita yang banyak beredar, Guo Hong Fu pada waktu kecil bekerja sebagai gembala pada seorang tuan tanah yang sangat kikir. Ia hidup bersama ibunya yang sudah tua. Berkat bimbingan sang ibu ini, Hong Fu menjadi seorang anak yang rajin bekerja dan berbudi luhur. Pagi-pagi ia sudah bangun, dengan riang gembira pergi mengembala ternak yang dipercayakan kepadanya. Pada suatu hari sang hartawan mengundang seorang ahli Feng-shui ( Hong - swi - Hokkian ) untuk memperbaiki kuburan lehuhurnya.

Selama tinggal di rumah hartawan ia berkenalan dengan Guo Hong Fu.
Ia sangat tertarik pada pribadi anak gembala itu. Mereka menjadi sahabat baik meskipun usia mereka berbeda jauh. Karena kekikiran sang hartawan,seringkali tukang Feng - shui ini hanya diberi makanan nasi daiTlank seadanya. Hong Fu sangat iba pada orang tua ini.maka ia rela menyisihkan jatah nasinya untuk sahabatnya itu. Si tukang Feng - shui sangat berterima kasih atas kebaikan Hong - Fu. Untuk membalas budi anak ini, ia memberikan petunjuk agar memindahkan makam ayahnya ke suatu tempat yang menurut perhitungan fengshui bagus, agar kelak hidupnya bahagia.
Ia mengikuti petunjuk sang ahli Feng-shui atas persetujuan ibunya. Guo Hong Fu menggali kuburan ayahnya, mencuci tulangnya sampai bersih, membungkusnya dengan kain, di masukkan ke dalam periuk tanah liat dan dikubur lagi di suatu tempat "Mulai sekarang, kau harus menggembalakan ternakmu di sekitar tempat ini, sampai ada seorang lelaki bertudung besi menuntun kerbau dengan seorang anak lelaki yang berjalan di bawah perut kerbau lewat di situ.
Tempat dimana kau melihat mereka arah letak Feng shui yang terbaik dan kuburlah tulang-tulang avahmu di situ", pesan si ahli Feng-shui. Begitulah, dengan sabar Hong Fu menunggu sambil menggembalakan dengan periuk tanah berisi tulang belulang ayahnya tak pernah lepas dari gendongannya.
Suatu siang yang cerah mendadak berubah menjadi gelap dengan petir menyambar-nyambar dan hujan turun dengan lebatnya. Hong Fu tak sempat menggiring pulang temaknya, sehingga terpaksa berteduh di bawah pohon besar. Saat ia beerteduh, dari arah tikungan muncul seorang lelaki menuntun kerbau dengan terburu-buru. Ia menggunakan wajan besi untuk melindungi kepalanya dari hujan dan anaknya yang masih kecil berlindung di bawah perut kerbaunya. Melihat itu Hong Fu tertegun. Ia segera sadar akan pesan
sang ahli Feng-shui. Tanpa memperdulikan hujan yang masih mengucur,ia segera menggali di tempat dimana pertama kali ia melihat mereka dan menanamkan periuk berisi tulang ayahnya di situ. Dan aneh, begitu periuk di masukkan ke dalamnya, lubang itu segera menutup sendiri. Dengan riang hati,Guo Hong Fu menggiring ternaknya pulang. Waktu terus berlalu, pada suatu hari desa dimana Hong Fu tinggal diserbu kawanan perampok yang ganas.
Sasaran utama kawanan berandal itu adalah tempat hartawan kikir di mana Hong Fu bekerja. Mereka merampok harta benda dan membakar rumahnya.
Karena kekhawatiran akan kobaran api yang mulai menjalar ke tempat
tinggalnya Guo Hong Fu meloncat keluar dari jendela. Anehnya begitu
melihat dia kawanan rampok segera lari kalang kabut, api besar yang dilewati Hong Fu pun lalu mengecil dan padam seperti di guyur oleh air. Hong Fu tidak menyadari hal itu, warga kampung yang menyaksikan kejadian ajaib itu terbengong keheranan. Sejak kejadian itu, semua orang menaruh hormat, kepadanya, lebih-lebih sang hartawan kikir. Hong Fu tidak memperkenankan menggembala lagi, tapi diberi tunjangan hidup agar dapat hidup lebih layak bersama ibunya.
Pada suatu hari, setelah dewasa. Hong Fu mendapat bisikan suci bahwa ia akan menerima anugerah Tuhan untuk menjadi orang suci. Ia menceritakan hal itu kepada ibunya. Ia lalu mandi, keramas dan bersemedi dalam kamar sepanjang hari. Menjelang senja, sang ibu yang melihat putranya sejak pagi tidak keluar dari kamar, lalu rnendorong pintu karnar, tempat putranya bersemedi. alangkah kagetnya ia ketika menyaksikan tubuh Hong Fu bersama kursinya terapung di udara dalam keadaan semedi. Tanpa pikir panjang, ia segera menarik kaki putranya ke bawah, tapi terasa kaki putranya
telah dingin dan kaku. Ia baru menyadari ternyata putranya telah berpulang.
Sejak itu penduduk kampung selalu menghormati Guo Hong Fu
dan memuja sebagai orang suci dengan mendirikan keienteng.
Belakangan, karena Hong Fu sering muncul dan memberikan pertolongan jika terjadi bencana alam, maka penduduk memberinya gelar Guang Ze Zun Wang yang berarti " R a j a Mulia yang memberi berkah berlimpah" atau secara singkat disebut Guo Sheng Wang ( Kwee Seng Ong-Hokkian).
Guo Sheng Wang ditampilkan sebagai seorang pemuda memakai baju kebesaran dengan kaki yang satu bersila dan yang lain terjulur ke bawah, seperti waktu ia ditarik oleh ibunya. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 22 bulan 8 Imlik, dan wafatnya pada tanggal 22 bulan 2 Imlik.
Sebuah versi lain, mengatakan bahwa sebetulnya yang dianggap sebagai Guo Sheng Wang adalah seorang Raja Muda yang hidup pada jaman Dinasti Tang yakni Guo Zi Yi (Kwee Cu Gi-Hokkian). Ia bergelar Fen Yang Wang (Hun Yang Ong-Hokkian) atau Raja Muda dari Fen - yang. Guo Zi Yi berjasa besar dalam menumpas pemberontakan An Lu Shan yang pada waktu

itu nyaris meruntuhkan Dinasti Tang. Secara umum Guo Zi Yi disebut Guo Fen Yang Gong. Ia banyak dipuja oleh keluarga Guo ( Kwee - Hokkian ) sebagai pelindungnya, hari lahirnya diperingati pada hari yang sama dengan Guo Sheng Wang.

Selasa, 13 Maret 2012

Lie Lo Cia (Li Ne Zha)

0 komentar

NB : Cerita dalam novel Hong Sin (Feng Shen) cerita begitu hebatnya dewa-dewa Tao.
Lie Lo Cia atau Li Ne Zha sering disebut juga dengan Sam Thay Cu (San Tai Zi 三太子), sebab ia adalah putera ketiga Lie King (Li Jing) alias Lie Thian Ong (Li Tian Wang). Gelarnya adalah Tiong Than Goan Swee (Zhong Tan Yuan Shuai 中壇元帥) atau Jendral Panggung Tengah. Sering pula disebut dengan Thay Cu Ya (Tai Zi Ye) atau Lo Cia (Ne Zha) saja.
 Cerita riwayat Lo Cia terdapat dalam novel Hong Sin (Feng Shen), yang ringkasannya sebagai berikut:
 Komandan garnisun kota Cheng Tang Guan yang bernama Lie King (Li Jing) sudah memiliki dua putera, yakni Lie Kim Cia (Li Jin Zha) dan Lie Bok Cia (Li Mu Zha). Saat itu Lie King sedang gelisah menantikan kelahiran anaknya yang ketiga, sebab walaupun usia kandungan isterinya sudah mencapai 36 bulan, sang jabang bayi belum juga keluar.
Suatu malam, isteri Lie King merasakan saat kelahiran bayinya sudah dekat dan segera  memberi tahu Lie King. Saat kelahiranpun tiba, tetapi alangkah terkejutnya Lie King ketika mengetahui bahwa yang keluar dari dalam perut isterinya adalah sebongkah bola daging yang bergulir kesana-kemari. Lie King segera meloncat mengambil pedangnya dan membelah bola daging tersebut. Dari dalamnya muncullah seorang bocah laki-laki cilik yang berpakaian (oto) merah dan tangannya memakai gelang emas. Begitu muncul, sang bocah segera berteriak memanggil Lie King sebagai ayah. Oleh Lie King, bocah itu diberi nama Lo Cia (Ne Zha).
 Suatu hari, Lo Cia yang berusia 7 tahun, mengajak pelayannya bermain-main ke sungai Jiu Wan He. Ia berendam sepuas-puasnya di sungai itu dan baju oto-nya yang dipakai sejak ia lahir, dilepas dan dicucinya. Tanpa disadari Lo Cia, perbuatannya itu  ternyata mengundang bencana. Oto yang dimilikinya tersebut adalah benda pusaka, dan begitu dicelupkan ke dalam sungai, maka sungai tersebut berubah menjadi merah warnanya dan mendidih. Sungai Jiu Wan He sebenarnya adalah pintu masuk kerajaan Naga Timur (Tong Hay Liong Ong / Dong Hai Long Wang). Melihat adanya goncangan di kerajaannya dan banyak prajuritnya yang mati, Hay Liong Ong menjadi penasaran. Ia memerintahkan seorang panglimanya untuk menyelidiki. Panglima ini melihat seorang bocah cilik sedang mencuci oto yang menimbulkan bencana.  Tanpa pikir panjang iapun segera menyerang bocah itu. Lo Cia yang kaget melihat 
ada makhluk aneh menyerangnya, segera melempar gelang pusakanya ke arah mahkluk tersebut. Gelang itu menghantam kepala sang panglima laut dan seketika juga langsung mati. Hay Liong Ong yang mendengar laporan matinya sang panglima, menjadi semakin murka.
Ia memerintahkan puteranya. Ao Ping, untuk menangkap dan menghukum Lo Cia. Diluar perhitungan, sang Pangeran Ao Ping justeru malah ikut tewas. Kemudian mayat Ao Ping yang masih berwujud naga itu, dicabuti ototnya oleh Lo Cia untuk dijadikan sabuk bagi ayahnya.
 Lo Cia kemudian pulang dan menceritakan kejadian itu kepada ayahnya. Sang ayah bukannya menjadi senang tapi malah menjadi marah kepada Lo Cia, sebab kejadian itu pasti akan berekor panjang.
 Benar juga, Hay Liong Ong datang menemui Lie King dan meminta pertanggung jawaban atas kematian puteranya. Karena terdesak, Lo Cia akhirnya bersedia menerima hukuman, asal orang  tuanya tidak diapa-apakan. Lo Cia mati bunuh diri dihadapan sang raja laut Hay Liong Ong.
 Setelah mati, arwah Lo Cia menemui gurunya yaitu Thay It Cin Jin (Tai Yi Zhen Ren), sedangkan isteri Lie King membuatkan klenteng untuk mengenang Lo Cia. Klenteng tersebut ramai dikunjungi orang, karena umumnya permohonan yang diajukan sering terkabul. Lie King yang mendengar berita ini menjadi gusar dan memerintahkan anak buahnya untuk membongkar dan menutup klenteng Lo Cia. Lo Cia yang mengetahui bahwa klentengnya dibongkar oleh sang ayah, menjadi dendam kepada ayahnya dan berniat membalasnya suatu
ketika nanti. Berkat bantuan gurunya, Lo Cia dapat  hidup kembali, dengan menggunakan badan dari kelopak teratai. Bahkan ia dibekali dengan sebuah tombak wasiat dan sepasang sepatu roda angin - api.  Dengan berbekal senjata barunya, Lo Cia mencari ayahnya untuk balas dendam.
Lie King yang kalah kesaktian dengan Lo Cia, akhirnya memohon bantuan Bun Cu Kong Hoat Thian Cun (Wen Shu Guang Fa Tian Zun). Lie King diberi sebuah pagoda wasiat yang dapat mengurung Lo Cia. Setelah tidak berdaya dan berjanji tidak akan memusuhi ayahnya lagi, maka Lie King melepas Lo Cia. Dalam novel Hong Sin diceritakan pula bahwa setelah kemenangan dipihak Kiang Tjoe Ge, maka Lo Cia berserta ayah dan saudaranya diangkat menjadi panglima-panglima langit. Ayahnya mendapat gelar Tok Tha Thian Ong (Tuo Ta Tian Wang) dan Lo Cia mendapat gelar Tiong Than Goan Swee (Zhong Tan Yuan Shuai). Lo Cia juga dianggap sebagai dewa pelindung bagi anak-anak.
Profil :
Lo Cia biasanya ditampilkan dalam wujud seorang bocah remaja, rambutnya dikonde dua, memakai oto merah, satu tangan memegang tombak dan tangan lainnya memegang gelang emas, serta berdiri di atas sepasang sepatu roda angin-api. Namun ada juga yang menampilkannya dengan mengenakan pakaian perang, atau berkepala tiga dan bertangan enam. Umumnya bila tidak dipuja sendiri, Lo Cia biasanya diletakkan berdampingan dengan Thian Siang Sing Bo (Tian Shang Sheng Mu) atau Poo Sing Tay Te (Bao Sheng Da Di 保生大帝).
Hari perayaan:
Secara umum, perayaan Lo Cia ada dua yaitu :
  • Tanggal 9 bulan 9 Imlek, sebagai hari lahir (shejid).
  • Tanggal 8 bulan 4 Imlek, sebagai hari kenaikannya ke langit.

Senin, 12 Maret 2012

Xuan Tian Shang Di

0 komentar
Oleh: Budiono Lee
 Xuan Tian Shang Di (   )



 
Xuan Tian Shang Di [Hian Thian Siang Te - Hokkian] adalah salah satu Dewa yang paling populer, wilayah pemujaannya sangat luas, dari Tiongkok utara sampai selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.
 
Pemujaan terhadap Xuan Tian Shang Di (   ) mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakannya, Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di pegunungan Wu Dang Shan (Bu Tong San - Hokkian], di propinsi Hubei, dalam sebuah kelenteng Shang Di Miao.
 
Berkat perlindungan Shang Di Gong (sebutan populer Xuan Tian Shang Di), Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya. Kemudian berkat bantuan Xuan Tian Shang Di (   ), maka Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongol dan menumbangkan Dinasti Yuan. Ia mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.
 
Untuk mengenang jasa-jasa Xuan Tian Shang Di (   ) dan berterima kasih atas perlindungannya, ia lalu mendirikan kelenteng pemujaan di ibu kota Nanjing (Nanking) dan di gunung Wu Dang Shan.
 
Sejak itu Wu Dang Shan menjadi tempat suci bagi penganut Tao. Kelentengnya, dengan patung Xuan Tian Shang Di (   ) juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara. Tiap tahun tanggal 3 bulan 3 Imlek ditetapkan sebagai hari She-jietnya dan tanggal 9 bulan 9 Imlek adalah hari beliau mencapai kesempurnaan dan diadakan upacara sembahyangan besar-besaran pada hari itu.
 
Sejak itulah pemujaan Shang Di Gong meluas ke seluruh negeri, dan hampir setiap kota besar ada kelenteng yang memujanya.
 
Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, dan menjadi pusat pemujaan bersama rakyat dan tentara. Oleh sebab itu, maka kelenteng Shang Di Miao tersebar diberbagai tempat. Diantaranya yang terbesar adalah di Taiwan yang dibangun pada waktu Belanda berkuasa di Taiwan.
 
Setelah jatuhnya Zheng Cheng Gong, Dinasti Qing yang berkuasa mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebetulnya adalah seorang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengkikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng aliran Buddha tentang seorang jagal yang telah bertobat lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak itu dikatakan sebagai usus dan jeroan si jagal.
 
Pembangunan kelenteng-kelenteng Shang Di Miao sejak itu sangat berkurang. Pada masa Dinasti Wing ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu She Miao di Tainan. Tetapi sebetulnya kaisar-kaisar Qing sangat menghormati Xuan Tian Shang Di (   ), ini terbukti dengan dibangunnya kelenteng pemujaan khusus untuk Shang Di Gong di komplek kota terlarang, yaitu Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian dan satu lagi di Istana Persinggahan di Chengde.
 
Mengenai riwayat Xuan Tian Shang Di (   ) ini, seorang pengarang yang hidup pada akhir Dinasti Ming, Yu Xiang Tou telah menulis sebuah novel yang bersifat dongeng yang berjudul "Bei You Ji" atau "Catatan Perjalanan Ke Utara".
 
Adapun ringkasan riwayat Xuan Tian Shang Di (   ) seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut adalah sebagai berikut:
 
Lahir pada keluarga Liu. Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti "Tumbuh Subur". Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sajak dan membuat syair.
 
Kembali Liu Zhang Sheng menitis di dunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming. Karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat menggantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja di negeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun [Biauw Lok Thian Cun - Hokkian] datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan.
 
Titisan berikutnya adalah sebagai seorang putera raja di negeri Jing Luo Guo [Ceng Lok Kok - Hokkian] yang bernama Xuan Yuan Tai Zi.
 
Setelah melewati beberapa ujian dalam hidupnya, Xuan Yuan berhasil mencapai kesempurnaan dan menjadi Dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di (   ).
 
Selanjutnya dikisahkan Xuan Tian Shang Di (   ) turun ke bumi menaklukkan berbagai siluman, antara lain siluman ular dan kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya. Disamping itu seorang tokoh dunia gelap Zhao Gong Ming [Tio Kong Bing - Hokkian] juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya, sebagai pembawa bendera berwarna hitam.
 
Kelenteng Xuan Tian Shang Di (   ) yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang sebagian besar kelenteng ada tempat pemujaan untuknya, sedangkan yang khusus memuja Xuan Tian Shang Di (   ) sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen dan Bugangan.


www.siutao.com 

Kamis, 08 Maret 2012

Bao Sheng Da Di (Pao Shen Ta Ti)

0 komentar

Bao Sheng Da Di disebut juga Da Dao Gong [Ta Tao Kong], Hua Qiao Gong [Hoa Kio Kong], atau Wu Zhen Ren [Go Cin Jin] yg berarti Dewa Wu.
Ada 2 pendapat yg sama-sama mempunyai dasar mengenai asal usul dr Bao Sheng Da Di.
Pendapat pertama mengat...akan bahwa Wu Zhen Ren memiliki nama asli Ben [Pun].
Wu Ben adalah seorg yg dilahirkan di desa Bai Jiao (Karang Putih), kabupaten Tong-an, wilayah Quan Zhou [Coan Ciu], propinsi Fujian. Ia lahir pada pemerintahan Kaisar Tai Zong, thn Xing Guo ke-4, bln 3 tgl.15 Imlek pd masa Dinasti Song.
Sejak masih kecil Wu Ben telah tertarik pd masalah pengobatan. Seorg pertapa, krn tertarik akan bakat anak ini, mengajarkan bermacam-macam ilmu pengobatan n memberikan kitab yg berisi kumpulan obat2. Setelah dewasa, ia terkenal sbg seorg tabib Dewa. Ia pernah mengikuti ujian sastra n lulus. Kemudian ia memangku jabatan sbg Yu Shi, jabatan di istana yg mengurus pencatatan sejarah.
Nama Wu Ben menjadi terkenal setelah ia berhasil mengobati penyakit yg diderita permaisuri Kaisar Ren Zong.
Setelah mengundurkan diri, Wu Ben berkelana mengobati penyakit. Kemudian Wu Ben memiliki bbrp murid, antara lain Huang Yi Guan (Huang si Menteri Tabib), Cheng Zhen Ren (Cheng si Manusia Dewa) n Yin Xian Gu (Yin si Dewi).
Rakyat, krn mengingat budi baik Wu Ben, banyak yg mendirikan kelenteng n diberi nama Ci Ji Gong yg berarti "Kuil Penolong Yg Welas Asih"
Para kaisar jg tdk ketinggalan menganugerahkan gelar kepadanya. Kaisar Song Gao Zong menganugerahkan gelar Da Dao Zhen Ren yg berarti "Dewa Jalan Nan Agung". Gelar ini menyebabkan Bao Sheng Da Di terkenal dgn sebutan Da Dao Gong yg berarti "Paduka Jalan Nan Agung".
Kaisar Song Ning Zong memberikan gelar kehormatan Zhong Xian Hou yg berarti "Pangeran Teladan Kesetiaan". Kaisar Ming yg pertama, Ming Tai Zu, memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun.
 Kaisar Ming yang pertama, Ming Tai Zu, memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun [Ho Thian Gi Su It Leng Cin Kun] yang berarti "Dewa Sejati Ahli Pengobatan dan Menteri Pencatat Sejarah".
 Pendapat yang satu lagi mengatakan bahwa Bao Sheng Da Di (保生大帝) adalah Wu Meng [Go Beng] yang hidup pada masa Dinasti Jin, penduduk asli dari Henan. Wu Meng sejak kecil terkenal karena baktinya kepada orang tua. Setelah dewasa ia berkelana dan melakukan pengobatan kepada penduduk yang tidak mampu. Kemudian ia dipanggil dengan nama Wu Zhen Jun [Go Cin Kun] yang berarti "Wu Si Dewa Sejati".
 Jika ditinjau dari sudut sejarah, maka Wu Meng lebih terkenal dari pada Wu Ben, sebab Wu Ben meskipun memiliki reputasi sebagai tabib yang hebat, tetapi ia hanya dipuja di sekitar propinsi Fujian saja. Namun jika ditinjau dari tempat asalnya, maka Wu Ben lebih mendekati kenyataan, karena Wu Ben di propinsi Fujian dipuja sebagai Bao Sheng Da Di.
 Kuil Bao Sheng Da Di (保生大帝) di propinsi Fujian yang terkenal terdapat di dusun Bai Jiao, tempat Wu Ben berasal. Di kuil itu terdapat papan yang dihadiahkan oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming.
 Kisah-kisah kehebatan Wu Ben di kalangan rakyat memang banyak beredar, terutama di propinsi Fujian dan sekitarnya.
 Diceritakan pada suatu hari, ia sampai di sebuah jalan pegunungan. Ia berjumpa 4 orang memanggul sebuah peti jenasah. Peti jenasah itu sangat sederhana, terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, menandakan bahwa keluarga si jenasah adalah keluarga yang melarat. Darah tampak mengalir dari celah-celah peti jenasah itu, menandakan bahwa orang dalam peti jenasah itu belum lama meninggal.
 Wu Ben melihat hal itu lalu berpikir sebentar, ia yakin bahwa yang di dalam peti belum meninggal. Ia meminta iring-iringan tersebut berhenti dan bersedia membuka tutup peti mati itu. Seorang wanita terbaring di dalamnya dan usianya sekitar 30 tahun.
 Sekilas Wu Ben mengetahui bahwa wanita itu baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan. Wu Ben meminta bantuan agar wanita tersebut diangkat keluar dari peti jenasah. Setelah dirawat dengan seksama akhirnya beberapa hari kemudian wanita yang sudah dianggap meninggal itu menjadi sehat kembali.
 Kejadian ini tersebar dari mulut ke mulut dan meluas ke seluruh pelosok negeri. Semua menganggap bahwa Wu Ben dapat menghidupkan orang mati.
 Ketenarannya sampai ke telinga Kaisar Ren Zong, yang sedang risau karena permaisurinya sedang sakit dan sudah banyak tabib tersohor yang didatangkan namun penyakit tidak kunjung sembuh. Tanpa memperdulikan jarak, Wu Ben datang ke istana untuk memenuhi panggilan kaisar.
 Karena kebiasaan waktu itu yang melarang orang awam menyentuh tubuh kaisar atau keluarganya, maka Wu Ben memeriksa denyut nadi permaisuri dengan bantuan seutas tali sutera yang diikat pada pergelangan tangan sang permaisuri. Setelah yakin akan penyakit yang diderita sang permaisuri, Wu Ben menulis resep. Berkat obat itulah, tidak lama kemudian sang permaisuri sembuh kembali.
 Ketika kaisar menanyakan hadiah apa yang diinginkannya, Wu Ben mengatakan bahwa ia ingin memakai jubah kebesaran yang pernah dipakai ayahnda kaisar. Kaisar Ren Zong mengabulkan permintaan tersebut.
 Saat Wu Ben memakai jubah tersebut, Kaisar Ren Zong lalu berlutut. Wu Ben buru-buru mencegah dan menolak kehormatan itu.
 Sejak itulah Wu Ben dikenal sebagai Bao Sheng Da Di (保生大帝) atau Maharaja Pelindung Kehidupan.
 Bersama dengan menyebarnya imigran dari Quan Zhou, pemujaan terhadap Bao Sheng Da Di (保生大帝) tersebar ke Taiwan, lalu ke Asia Tenggara. Di Taiwan, karena imigran Quan Zhou banyak jumlahnya, maka kelenteng yang memuja Bao Sheng Da Di (保生大帝) terdapat dimana-mana.
 Yang tertua adalah yang didirikan pada masa Dinasti Ming, saat pemerintahan Kaisar Wan Li, yaitu Kaisar Kai Shan Gong [Khai San Kong]. Masih ada juga yang lebih besar yaitu Xing Ji Gong, Yuan He Gong, Liang Huang Gong, Fu Long Gong, Guang Ji Gong, Miao Shou Gong, dan lain-lain. Di Singapura pemujaan Bao Sheng Da Di (保生大帝) terdapat di kelenteng Tian Fu Gong [Thian Hok Keng] di Telok Anyer Stree